Berita

Berita Baik

Berita Baik

Konser Leo Kristi

Dipajang pada March 20th

Menebar Cinta Tanah Air dan Persaudaraan Lewat Lagu

Suara penyanyi Leo Kristi masih merdu dan soulfull saat ia melantunkan lagu Pojok Café Simpang Lima. Lengkingan falsetto-nya mampumenyihir sekitar 300-an penonton yang menyesaki Function Hall Springhill Clubhouse, Kemayoran, Jakarta, April lalu. Alhasil, penonton ‘hanyut’ dalam konser Leo Kristi yang akrab, riang dan santai selama hampir empat jam. Menariknya, penonton konser bertajuk Leo Kristi Live in Concert itu berasal dari beragam kalangan & usia. Konser tak cuma disesaki komunitas pecinta musik Leo Kristi (L’Kers) tapi juga ada yang baru pertama kali menonton konser Leo, seperti Ibu Swan Kumarga. Ibu yang terlihat bugar di usia 54 ini terharu saat mendengar lirik Pojok Cafe Simpang Lima. Katanya,”Ganyangka saat denger lagu ini, saya seperti diajak ‘kembali’ ke Semarang tahun 80-an. Padahal baru kali ini saya nonton Leo Kristi” Menurut cerita Ibu Swan, saat muda ia tinggal di Solo dan rutin main ke Semarang, sehingga ia kenal dengan kawasan Simpang Lima, yang menjaditempat favorit banyak orang bersantai. Menurut pemilik resto khas Solo ini, ia menyukai Leo Kristi karena musiknya unik dan lirik yang puitis. “Saya tahu konser Leo ga sengaja, waktu pulang lewat Kemayoran, ngeliat spanduknya.”

Pojok cafe Simpang Lima, masihkah hangat seperti dulu Kembang senyum, kembang hatikah kini ? Cintaku tak kan sepi dalam menanti, Kakek oh kakek, nenek oh nenek

Konser Leo Kristi kali ini terbilang istimewa. Konser yang digagas direktur Springhill, AH. Marhendra ini diniatkan sebagai apresiasi atas totalitas Leo Kristi dalam seni musik. Selain itu, Springhill juga ingin memberi pengalaman menonton pentas musik bergizi kepada pelanggan dan warga Jakarta. Hebatnya, penonton tak perlu bayar. Tak heran bila Leo Kristi juga tampil habis-habisan. Leo Kristi didampingi Titi Ajeng (vokal), Maryam Lupita (vokal), Alya Shafira Wibowo (vokal), Puspita Herdiani (cajon), Mung Sriwiyana (bass), Liliek Jasqee (violin), dan Djoko (gitar). Lewat musiknya, Leo mengajak penonton ‘berkelana’ melintasi waktu, seraya merenungkan kembali beragam peristiwa . Ada yang berupa penggalan sejarah di tanah air, tapi ada juga pengalaman pribadi Leo. Mengenakan jas hitam dengan pin garuda emas di dada, membuat kharisma Leo Kristi makin bersinar di usia 66 tahun. Tak hanya memetik gitar, sesekali Leo meniup harmonika, ukulele, hingga bermain piano. Setting panggung juga menarik, dibuat seperti hutan meranggas saat kemarau, dengan ranting-ranting kering di tepi panggung.

image thumbnail
image thumbnail
image thumbnail

Tercatat lebih dari 20 lagu dinyanyikan Leo & kawan-kawan secara maraton. Dari Damai Mulia, Nyanyian Malam, Kereta Laju, Tepi Surabaya, Salam dari Desa, Beludru Sutera Dusunku, Dari Fajar hingga Fajar, Laut Lepas Kita Pergi, Lewat Kiaracondong, Silhuet Kathedral Tua, Di Atas Bukit Utara Selaksa Bunga Rumput Goyang Bersama, hingga beberapa lagu barunya. Kematangan Leo sebagai bintang panggung terlihat dari caranya memperlakukan penggemar. Leo menyapa mereka dengan sebutan ‘para sedulur’ (para saudara) termasuk melayani permintaan lagu.
Sikap Leo membuat penggemarnya seperti kesurupan, mereka berteriak, bernyanyi hingga berjoget di atas panggung, termasuk fans beratnya
seperti Direktur Springhill, Marhendra dan fotografer senior Arbain Rambe. Menariknya, sekitar 3 jam setelah konser, tiba-tiba ada sebungkus besar tahu goreng yang dibagi-bagi ke penonton yang mulai kelaparan, tapi enggan meninggalkan konser. Meski sedikit ‘rusuh’, suasana konser makin asyik. Suasana guyub seperti ini yang membuat penggemar Leo Kristi setia, termasuk Ramdan Malik, produser senior salah satu stasiun TV yang malam itu tak cuma menonton, tapi juga mengajak timnya untuk meliput konser. “Saya nonton konser Mas Leo pertama kali di TIM, Jakarta waktu masih SMP di tahun 1980-an. Mungkin seperti ketika kita first love, susah dijelasin kenapa? Tapi hingga kini saya masih suka lagu Leo Kristi.”Kata Ramdan seraya tersenyum. Tak beran bila musik Leo Kristi seperti magnet bagi penggemarnya. Sejak balita, jiwa Leo kecil sudah ‘dirasuki’ permainan musik ayahnya. Anak kedua dari empat bersaudara ini sejak SD aktif dalam paduan suara gereja (bagian dari kegiatan sekolahnya yang Kristen) padahal Leo Islam. Ia pernah bilang begini soal musik & toleransi agama,”Saya menerima musik sebagai
sahabat, menyambut nyanyian sebagai kecintaan”. Rasa sayang Leo terhadap tanah air bertambah mengikuti perjalanannya ke beragam pelosok Nusantara. Tentu sambil merawat harapan wong cilik lewat lagu & senandung lirik nan puitis.